Jumat, 10 Juni 2016

MENANAM JAGUNG YANG BENAR


Budidaya tanaman jagung harus dikembangkan, agar Indonesia bisa berkembang dan maju dalam sistem pertanian. Anda ingin budidaya tanaman jagung, mulailah dari sekarang karena budidaya jagung ada keuntungan yang sangat besar. Blogiztic.net akan mengupas cara budidaya tanaman jagung yang benar sebagai berikut.

 CARA - CARANYA................................?
- Syarat benih yang diperlukan

   Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).

- Pengolahan lahan tanaman

   Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

- Pemupukan tanaman

   Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea
sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl
sebanyak 50- 100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap. Pada
tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu
tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah
tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga
(pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8
minggu atau setelah malai keluar.

- Cara penanaman tanaman

1. Penentuan Pola Tanaman

Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
- Tumpang sari (intercropping)
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
- Tumpang gilir (Multiple Cropping)
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
- Tanaman Bersisipan (Relay Cropping)
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
- Tanaman Campuran (Mixed Cropping)
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam

  Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40×100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25×75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman

Penjarangan dan Penyulaman

  Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

Penyiangan tanaman

  Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

Pembumbunan tanaman

Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

Pengairan dan Penyiraman tanaman

  Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

Hama pada tanaman
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Pengendalian yang harus dilakukan
- penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman.
- tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.
- Sanitasi kebun.
- semprot dengan PESTONA

b. Ulat Pemotong

Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh.
Pengendalian yang dilakukan
- tanam serentak atau pergiliran tanaman
- cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah)
- semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

Penyakit pada tanaman

a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.
Pengendalian yang dilakukan
- penanaman menjelang atau awal musim penghujan
- pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan
- cabut tanaman terserang dan musnahkan
- Preventif diawal tanam dengan GLIO
b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum.
Pengendalian yang dilakuakan
- pergiliran tanaman.
- mengatur kondisi lahan tidak lembab
- Prenventif diawal dengan GLIO
c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw.
Pengendalian yang dilakukan
- mengatur kelembaban
- menanam varietas tahan terhadap penyakit
- sanitasi kebun
- semprot dengan GLIO.
d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC.
Pengendalian yang dilakukan
- mengatur kelembaban
- memotong bagian tanaman dan dibakar
- benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .
e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Pengendalian yang dilakukan
- menanam jagung varietas tahan
- pergiliran tanam
- mengatur jarak tanam
- perlakuan benih
- GLIO di awal tanam.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
Ciri dan umur jagung Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

Cara pemanenan jagung

Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung
.
Pengupasan jagung

Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
Pengeringan jagung

Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.
Pemipilan jagung

Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

Penyortiran dan penggolongan jagung

Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.







sumber:
pertanian1994.blogspot.co.id

Budidaya Jagung

Sebelum menanam jagung, harap perhatikan lokasi untuk menanam jagung, agar nantinya menghasilkan produksi yang maksimal. Tanaman jagung sangat memerlukan cahaya matahari, karena memiliki tingkat fotosintesis yang cukup tinggi. Oleh karena itu lokasi yang baik untuk budidaya tanaman jagung adalah areal yang terbuka berupa sawah atau ladang. Selain itu sebaiknya area untuk menanam jagung tidak terdapat genangan air, namun memiliki kadar air yang cukup.

Pada dasarnya semua jenis tanah dapat ditumbuhi oleh tanaman jagung, namun sifat tanah yang paling baik untuk jagung adalah yang drainasenya lancar, subur dengan humus dan mempunyai pupuk yang cukup untuk persediaan tumbuh tanaman jagung.

Iklim suatu daerah juga turut berperan dalam menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Iklim yang tidak mendukung, misalnya banyak hujan badai dan angin ribut, akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman jagung.

Tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik dan berkualitas pada daerah yang beriklim sejuk yaitu 50 derajat LU sampai 40 derajat LS dengan ketinggian sampai 3000 meter dari permukaan laut.

Derajat keasaman tanah juga berpengaruh dalam pertumbuhan jagung, derajat keasaman tanah dipengaruhi oleh banyaknya kandungan unsur kimia dalam tanah serta kadar air dalam tanah tersebut.

Sebaliknya tanah yang kering berkapur dengan kadar air yang sedikit akan lebih bersifat basa. Untuk tanaman jagung sebenarnya mampu beradaptasi pada lingkungan dengan derajat keasaman antara 5,5 sampai 7.

Tanaman jagung memerlukan air terutama untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan. Jadi sebaiknya penanaman jagung diawali pada saat musim hujan mulai tiba. Karena pada saat musim hujan tanah dalam keadaan lembab sehingga tanaman tidak kekurangan air dan proses fotosintesis yang dilakukan untuk beraktifitas dan berproduksi bisa berjalan dengan baik.

Intensitas cahaya yang banyak dan cukup sangat dibutuhkan untuk berfotosintesis, selain itu juga untuk berproduksi, karena tanpa intensitas cahaya yang cukup, bunga tidak dapat menjadi buah.

Suhu yang paling baik untuk pertumbuhan jagung adalah antara 21-30 derajat celcius. Sedangkan untuk proses perkecambahan jagung, yang paling tepat adalah antara suhu 21-27 derajat celcius.

Ada 2 cara untuk menanaman jagung, yaitu:

1. Multikultur

Multikultur adalah penanaman lahan dengan banyak jenis tanaman yang berbeda-beda secara bersama-sama. Misal, dalam satu waktu pada suatu lahan ditanami jagung, ketela pohon, dan kacang tanah. Cara ini bertujuan agar kesuburan tanah tetap terjaga.

2. Monokultur

Monokultur adalh menanami lahan hanya dengan satu jenis tanaman secara berselang seling, atau bergantian.

Pemberian pupuk dilakukan setelah tanaman jagung berumur 2 minggu, dengan cara ditaburkan pada tanaman jagung. Kemudian pemberian urea dilakukan setelah tanaman jagung berumur 40 hari, dengan tujuan meningkatkan jumlah dan kualitas tongko jagung.

Pembuangan bunga jantan dilakukan setelah 40 hari penanaman, ini bertujuan agar tongkol jagung menjadi lebih besar dan lebih banyak.

Pengendalian hama dan penyakit pada jagung dilakukan agar tanaman jagung tidak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya mengganggu hasil produksinya. Hama dan penyakit yang perlu di kendalikan diantaranya:

  • Ulat daun
  • Lalat bibit
  • Ulat agrotis
  • Penggerek daun
  • Penggerek batang
  • Ulat tongkol

Sekian artikel tentang Cara Menanam Jagung Yang Baik Dan Benar ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para petani yang akan menanam jagung.







sumber:
www.kebunpedia.com

Menanam Bawang Putih dalam Pot



Cara mudah menanam bawang putih, bisa dalam pot ataupun dipekarangan langsung,
yang perlu di siapkan dan dilakukan adalah :



Siapkan bawang putih, masukkan dalam kulkas, biarkan selama 1-2 minggu hingga siung bawang putih numbuh.





Siapkan tanah gembur ( pasir + tanah + pupuk kandang ) dalam pot atau dipekarangan langsung
Tanam siung bawang putih yang sudah numbuh, sedalam 2-3 cm






Siram selalu bibit bawang, tapi jangan sampai terlalu basah.
Pastikan tanaman bawang mendapatkan sinar matahari yang cukup.










Setelah sekitar 2 minggu, bawang putih akan tumbuh dengan baik.
Selalu ditambah pupuk kandang setidaknya seminggu sekali.
Tunggu hingga 90 - 100 hari untuk mendapatkan bawang putih yang siap panen.





Letakkan siung bawang putih diatas sekam bakar yang dibawahnya dikasih air, biarkan hingga seminggu









Setelah seminggu, maka bawang akan muncul akar2 dibagian bawahnya.








Tunggu hingga sekitar 2 minggu untuk menghasilkan bawang putih yang mulai berdaun dan siap untuk dipindahtanamkan








Tanam bawang putih dalam pot yang diisi dengan tanah gembur ( sekam + tanah + pupuk kandang )


Tergantung dari selera mana yang dianggap mudah dalam proses bercocok tanam bawang putih dalam pot,
semoga berhasil.







sumber:
tamanbibit.blogspot.co.id

Budidaya Bawang Putih

Di antara berbagai macam bumbu dapur yang ada, bawang putih (Allium sativum) adalah yang paling populer. Tanaman yang masuk famili Liiliaceae ini, selain memiliki peran penting dalam mempengaruhi cita rasa masakan, juga memiliki kegunaan untuk pengobatan, seperti obat untuk tekanan darah tinggi, sakit gigi, influenza, reumatik, digigit ular, dan lain sebagainya.

Bawang putih juga merupakan komoditas potensial untuk pasar impor. Dengan harga yang relatif stabil, bercocok tanam bawang putih merupakan salah satu prospek yang harus dilirik oleh para petani, mengingat terbatasnya jumlah petani yang membudidayakan tanaman bawang putih.

Terbatasnya jumlah petani yang bercocok tanam bawang putih tersebut, disebabkan keterbatasan varietas bawang putih itu sendiri. Saat ini, varietas yang tersedia hanya cocok untuk ditanam di dataran tinggi (&gt; 800 m dpl). Padahal masih cukup banyak varietas bawang putih yang dapat tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah.

[​IMG]

Untuk membudidayakan tanaman bawang putih, sebenarnya tidak begitu sulit. Tahapan-tahapan yang harus diperhatikan diantaranya adalah:

  • Persiapan Lahan,
  • Penanaman,
  • Pemupukan,
  • Pemulsaan,
  • Pengairan,
  • Pemeliharaan,
  • Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan,
  • serta Penanganan pada masa Panen dan Pasca Panen.

Berikut penjelasan cara menanam bawang putih yang benar lebih lengkapnya:

1. Persiapan lahan

Tanah yang disukai tanaman bawang putih adalah tipe tanah bertekstur lempung berpasir dan struktur tanah gembur dengan pH 5,5-7. Di atas tanah seperti inilah tanaman bawang putih dibudidayakan dengan terlebih dahulu melakukan pembukaan lahan. Caranya dengan membersihkan sisa-sisa tanaman yang ada di dalam atau di atas permukaan tanah lewat pembajakan sedalam 20-30 cm.

Pembajakan dilakukan dengan intensitas sebanyak 2-3 kali dalam satu minggu. Selanjutnya dibuat bedengan selebar 60-150 cm dan tinggi 20-50 cm. Sedang untuk panjang bedengan disesuaikan dengan luasnya lahan. Tidak lupa dibuatkan parit di antara bedengan untuk irigasi dengan lebar 30-40 cm. Kedalaman parit itu sendiri tergantung dari keadaan musim. Pada musim hujan misalnya, harus dibuatkan parit yang lebih dalam.

2. Penanaman

Dalam proses penanaman, umbi bibit yang digunakan harus memiliki ukuran yang seragam. Umbi tersebut ditanam dengan kedalaman 2-3 cm. Untuk jarak tanam dapat disesuaikan dengan ukuran siung yang digunakan, misalnya jika bobot siung lebih berat dari 1,5 gram maka jarak tanamnya 20 cm X 20 cm, atau bila bobot siung lebih ringan dari 1,5 gram, maka jarak tanamnya 15 cm x 15 cm atau 15 cm x 10 cm. Untuk kebutuhan bibit, di setiap satu hektar lahan dibutuhkan sekitar 1.600 kg jika berat siung bibit 3 gram, tapi jika berat siung bibit 1 gram maka dibutuhkan 670 kg.

3. Pemupukan

Pupuk yang digunakan untuk budidaya tanaman bawang putih terdiri atas pupuk organik dan pupuk non-organik. Untuk pupuk organik berupa pupuk kandang ayam dengan dosis 10-20 ton/ha atau pupuk kandang kambing dengan dosis 30 ton/ha. Sementara dosis untuk pupuk non-organik, per hektarnya adalah 200 kg N, 180 kg P2O5, 60 kg K2O dan 142 kg S. Pupuk nitrogen digunakan 3 kali selama pertumbuhan, yaitu pada saat tanam, saat pembentukan tunas dan saat pembentukan umbi.

Untuk pupuk fosfor dan kalium diberikan bersamaan dengan pupuk kandang pada waktu tanam. Untuk meningkatkan kualitas dan hasil umbi, dapat diberikan pupuk kimia cair (unsur mikro), seperti Sitozim dengan konsentrasi 0,25% yang disemprotkan pada daun, Massmikro dengan konsentrasi 200 ppm, dan Hipron sebanyak 2 kali dengan konsentrasi 2 ml/l.



4. Pemulsaan

Pemulsaan dilakukan pada musim kemarau, karena jika pada musim hujan dapat menyebabkan kelembaban tanah terlalu tinggi sehingga kurang baik bagi kehidupan tanaman. Mulsa itu sendiri berupa jerami padi atau sisa-sisa tanaman yang telah mati, dan jangan menggunakan mulsa dari bahan plastik, karena dapat meningkatkan suhu tanah di sekitar perakaran yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

5. Pengairan

Untuk mengairi tanaman bawang putih dapat dilakukan dengan cara menggenangi parit di antara bedengan. Frekuensinya tergantung dari umur tanaman. Untuk awal pertumbuhan misalnya, pemberian air dilakukan 2-3 hari sekali, sedang pada masa pembentukan tunas sampai pembentukan umbi pengairan dilakukan 7-15 hari sekali., Pengairan baru dihentikan pada saat pembentukan umbi maksimal atau 10 hari menjelang panen.

6. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman bawang putih dilakukan dengan menyiangi gulma serta perbaikan bedengan dengan selang waktu 20-30 hari. Frekuensi penyiangan gulma tersebut dapat ditambah jika laju pertumbuhan gulma cukup pesat. Ketika tanaman bawang putih masuk fase generatif, penyiangan tidak lagi dilakukan karena dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi.

7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang menyerang tanaman bawang putih, terbilang cukup banyak. Tercatat ada sekitar 19 OPT, diantaranya adalah

- Thrips tabaci,
- Spodoptera exigua, Fusarium sp,
- Alternaria porii,
- Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV), serta yang lainnya.

Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan sistem PHT, yaitu lewat penggunaan benih sehat, pengendalian kultur teknis, musuh alami,, penggunaan perangkap, sanitasi, dan pestisida sesuai ambang pengendalian.

8. Penanganan Masa Panen dan Pascapanen

Waktu panen dari tanaman bawang putih tergantung dari varietasnya, tapi waktu rata-rata yang dibutuhkan sejak masa tanam hingga waktu panen sekitar 90 – 120 hari. Ciri-ciri dari tanaman yang telah siap panen yaitu:

Terjadinya perubahan warna pada daun, dari hijau menjadi kuning dengan tingkat kelayuan 35-60%. Ketika menjelang panen inilah semua kegiatan pemupukan, pengairan dan penyemprotan pestisida harus dihentikan.

Untuk memanen bawang putih, dilakukan dengan cara mencabut tanaman menggunakan tangan saat cuaca cerah. Hasil produksi yang bisa dipanen mencapai 5,6 sampai 12 ton/ha.

Umbi hasil panen tersebut selanjutnya diikat sebanyak 20-30 rumpun per ikat, dan dijemur sampai batangnya kering yang membutuhhkan waktu sekitar 15 hari. Pengeringan umbi dapat dilakukan dengan cara :


  • Dijemur di bawah terik matahari, namun dengan menutup umbi menggunakan daunnya agar umbi bawang putih tidak terkena sinar matahari secara langsung.
  • Pengeringan dapat dilakukan di dalam rak berlapis dengan cara digantung.
  • Pengeringan dapat pula dilakukan dengan menggunakan metode pengasapan, yakni menempatkan bawang putih di atas para-para yang ada di dapur. Selanjutnya bawang putih tersebut diasapi dengan menggunakan asap yang berasal dari air yang sengaja di masak.

Untuk memperpanjang umur umbi bawang putih, saat dilakukan penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi dengan tablet 55% Phostoxin.






sumber:

Menanam Bawang Putih di Pekarangan Rumah


Bawang putih merupakan salah satu bumbu masakan yang pemakaiannya seolah wajib. Sayangnya, makin ke sini, harga bawang putih semakin melonjak. Hal ini kemudian memaksa para ibu rumah tangga untuk ekstra hemat, entah dengan mengurangi penggunaan bawang putih atau bahkan tidak lagi menggunakannya. Ini patut disayangkan, sebab bagaimanapun bawang putih merupakan komponen sehat dalam makanan. Sebenarnya ada ragam cara untuk berhemat tetapi tetap bisa menggunakan bawang putih sebagai bumbu masakan. Sederhana saja, tanam bawang putih Anda sendiri! Mungkin Anda berpikir opsi ini merepotkan karena mengira bercocok tanam bawang putih harus di lahan yang luas. Faktanya, Anda bahkan bisa menanam bawang putih di pot bunga! Untuk pemahaman lebih lanjut, berikut kami sajikan cara menanam bawang putih di pekarangan rumah. Semoga membantu.

Tanaman Kebun 

Memang bawang putih pada faktanya adalah tanaman kebun. Akan tetapi bukan berarti ia taidak tumbuh maksimal jika ditanam di pekarangan rumah Anda. Tapi sebelum benar-benar menanamnya, pastikan pekarangan Anda memiliki kondisi ideal berikut:

  • Bawang putih tak suka tanah yang becek atau kadar airnya tinggi. Karena itu, cermatilah tanah di pekarangan. Jika terlalu lembab, lebih baik tanam bawang putih di pot saja.
  • Pastikan pula pekarangan Anda terpapar sinar matahari dengan benar, sebab sebagai tanaman, bawang putih sangat menyukai area terbuka dan terkena sinar matahari maksimal.
  • Jika pekarangan Anda dipenuhi tumbuhan, tak mengapa sebab bawang putih tidak bermasalah dengan hal tersebut, hanya saja pastikan tumbuhan lain tidak menghalangi pasokan cahaya ke tanaman bawang ya!

Jika pekarangan Anda ideal untuk ditanami, maka tak ada salahnya untuk segera memulai kegiatan bercocok tanam. Adapun cara menanam bawang putih sebagai berikut:

  • Bawang putih diperbanyak melalui umbinya. Jadi, jika Anda tak mau repot-repot, cukup beli bawang puith beberapa siung dan simpanlah beberapa bulan hingga terlihat ada daun bawang yang mulai keluar dari umbi tersebut. Itu adalah pertanda bawang siap ditanam. Biasanya dalam metode yang lebih professional, pembibitan bawang putih dimulai dengan menyimpan umbinya di tempat dengan suhu yang berkisar di angka 5 derajat celcius. Suhu tersebut bisa merangsang proses pengumbian dengan baik.
  • Setelah bibit siap, pastikan medium tanah tempat bawang hendak ditanam tersebut dalam keadaan subur. Jika dirasa kurang, Anda bisa mengolahnya terlebih dahulu dengan menggunakan pupuk kompos. Setelahnya ratakaanlah tanah.
  • Langkah selanjutnya adalah dengan membuat lubang tanam dengan kedalaman antara 2 sampai 3 cm. Jarak tanam masing-masing bibit bawang adalah 8 sampai 10 cm. Setelah siap, tanamlah bawang putih.
  • Dalam proses tumbuhnya, bawang putih tidak membutuhkan banyak air jadi Anda tidak perlu sering-sering menyiramnya. Kerusakan bawang akan semakin tinggi jika tanah basah. Yang perlu Anda perhatikan hanyalah tumbuhan pengganggu di sekitar tanaman bawang putih seperti rerumputan
  • Masa panen bawang putih bisa terlihat dari daunnya yang telah menguning, menjadi coklat dan kemudian layu. Jika Anda telah mendapati kondisi tersebut, berarti bawang putih Anda siap dipanen.
  • Setelah dipanen, jangan simpan bawang putih dalam keadaan basah sebab berpotensi busuk. Sebaiknya, setelah dicabut dari tanah, angin-anginkanlah bawang putih terlebuh dahulu baru kemudian disimpan.

Bagaimana, cara menanam bawang putih di pekarangan rumah ini cukup mudah bukan? Satu biji bawang putih bisa menghasilkan 1 siung bawang. Jadi, manfaatkan pekarangan Anda dengan menanam bawang putih, si bumbu penyedap rasa ini. Selamat bercocok tanam ya!







sumber:

Budidaya Bawang Merah

Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun pada saat-saat tertentu sering mengalami banjir produksi sehingga harganya anjlok. Diperparah lagi dengan kebijakan impor yang diterapkan pemerintah yang seringkali memperparah kejatuhan harga bawang merah di pasaran.
Untuk menghindari fluktuasi harga yang sangat merugikan petani, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang merah diluar musim. Seiring dengan pembatasan kegiatan budidaya di musim-musim puncak.
Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari. Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32 derajat celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7.
Kali ini alamtani mencoba menguraikan langkah-langkah teknis yang perlu disiapkan untuk melakukan usaha budidaya bawang merah. Cara menanam bawang merah ini disarikan dari pengalaman para petani bawang di Brebes, Jawa Tengah. Berebes merupakan salah satu sentra budidaya bawang merah terbesar di Indonesia.

Benih bawang merah
Varietas benih untuk budidaya bawang merah cukup banyak. Ada benih lokal hingga benih hibrida impor. Bentuk benihnya ada yang dari biji, ada juga berupa umbi. Kebanyakan budidaya bawang merah di sentra-sentra produksi menggunakan umbi sebagai benih.
Benih bawang merah yang baik berasal dari umbi yang dipanen tua, lebih dari 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari dataran tinggi. Benih bawang merah yang baik setidaknya telah disimpan 2-3 bulan. Ukuran benih sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk yang bagus, tidak cacat, berwarna merah tua mengkilap.
Kebutuhan benih untuk budidaya bawang werah tergantung dengan varietas, ukuran benih dan jarak tanam. Untuk jarak tanam 20×20 dengan bobot umbi 5 gram dibutuhkan sekitar 1,4 ton benih per hektar. Untuk bobot yang sama dengan jarak tanam 15×15 dibutuhkan 2,4 ton per hektar. Bila bobot umbi lebih kecil, kebutuhan umbi per hektarnya lebih sedikit lagi.

Pengolahan tanah dan penanaman
Tanah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 meter, tinggi 20-30 cm dan panjang sesusai dengan kondisi kebun. Jarak antar bedengan 50 cm, sekaligus dijadikan parit sedalam 50 cm. Cangkul bedengan sedalam 20 cm, gemburkan tanahnya. Bentuk permukaan atau bagian atas bedengan rata, tidak melengkung.
Tambahkan kapur atau dolomit sebanyak 1-1,5 ton per hektar apabila keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Penambahan kapur setidaknya diberikan 2 minggu sebelum tanam.
Gunakan 15-20 pupuk kompos atau pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Tebarkan pupuk di atas bedengan dan aduk dengan tanah hingga merata. Bisa juga ditambahkan urea, ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 kg, 100 kg, 311 kg dan 56 kg setiap hektarnya. Campur pupuk buatan tersebut sebelum diaplikasikan. Biarkan selama satu minggu sebelum bedengan ditanami.
Siapkan benih atau umbi bawang merah yang siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemogesan terlebih dahulu. Pemogesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
Jarak tanam untuk budidaya bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah.

Perawatan budidaya bawang merah
Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu, frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali.
Pemupukan susulan diberikan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Jenis pupuk terdiri dari campuran urea, ZA, dan KCl yang diaduk rata. Komposisi masing-masing pupuk sebanyak 93 kg, 200 kg dan 112 kg untuk setiap hektarnya. Pemupukan susulan selanjutnya diberikan pada minggu ke-5 dengan komposisi urea, ZA, KCl sebanyak 47 kg, 100 kg, 56 kg per hektar. Pemupukan diberikan dengan membuat garitan disamping tanaman.
Penyiangan gulma biasanya dilakukan sebanyak dua kali dalam satu musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan penyiangan tanpa menunggu pemberian pupuk susulan.

Pengendalian hama dan penyakit
Budidaya bawang merah mempunyai banyak jenis hama dan penyakit. Namun yang paling sering menyerang di sentra-sentra produksi adalah hama ulat dan penyakit layu.
Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini ditanggulangi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos.
Penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa menggunakan fungsidia.

Panen budidaya bawang merah
Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%.
Budidaya bawang merah biasanya sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia, produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata nasional 9,47 ton per hektar.
Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan atau dipasarkan.







sumber:
alamtani.com

Hama dan Penyakit Tanaman Cabe

Budidaya tanaman cabe merupakan kegiatan usaha tani yang menjanjikan keuntungan menarik. Di Indonesia, permintaan akan cabe cukup tinggi. Cabe seakan-akan sudah menjadi bahan kebutuhan pokok masyarakat. Di masa-masa tertentu, seperti menjelang hari raya harga cabe bisa meningkat hingga puluhan kali lipat.
Usaha tani tanaman cabe (Capsicum annuum L.) memerlukan modal besar dan keterampilan yang cukup. Tidak jarang petani cabe merugi karena abai memperhitungkan faktor cuaca, fluktuasi harga atau serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, segala resiko dalam budidaya tanaman cabe harus dipertimbangkan secara matang.
Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor resiko yang cukup besar dalam budidaya cabe. Agar sukses menjalankan usaha tani cabe, ada baiknya kita mengenal jenis-jenis hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman cabe.

Hama tanaman cabe
Hampir semua hama yang menyerang tanaman terung-terungan bisa menyerang tanaman cabe. Serangan hama ini bisa menurunkan produktivitas tanaman, bahkan pada tingkat tertentu mengakibatkan gagal panen. Berikut ini beberapa jenis hama utama yang sering menyerang tanaman cabe di Indonesia.
a. Hama ulat
Ulat yang sering menyarang tanaman cabe diantaranya ulat grayak (Spodoptera litura). Ulat jenis ini memakan daun sampai bolong-bolong sehingga menganggu kemampuan fotosintesis tanaman. Pada tingkat yang parah ulat grayak memakan habis seluruh daun dan hanya menyisakan tulang-tulang daun.
Selain itu ada juga jenis ulat yang menyerang buah cabai, yaitu jenis Helicoverpa sp. dan Spodoptera exigua. Ulat jenis ini membuat lubang pada buah cabe baik yang masih hijau maupun merah.
Ulat biasanya menyerang pada malam hari atau saat matahari teduh. Pada siang yang terik, ulat bersembunyi di pangkal tanaman atau berlindung di balik mulsa sehingga ulat-ulat ini bisa lolos dari penyemprotan.

  • Pengendalian teknis. Ulat diambil saat malam hari ketika mereka mulai berkeliaran. Pengambilan ulat sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dan serempak. Bisa juga dipasang perangkap imago hama. Pencegahannya adalah dengan menjaga kebersihan kebun. Siangi gulma pada selasar bedengan, parit atau lubang-lubang mulsa.
  • Pengendalian kimiawi. Penyemprotan dilakukan apabila serangan sudah parah. Jenis obat yang digunakan adalah insektisida. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat malam hari.

b. Hama tungau
Tungau yang biasa menyerang tanaman cabe ialah tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah (Tetranycus sp.). Tungau dijumpai juga menyerang tanaman tanaman singkong.
Pada tanaman cabe, serangan tungau membuat daun keriting menggulung ke bagian kebawah seperti sendok terbalik. Daun menjadi tebal dan kaku sehingga pembentukan pucuk terhambat. Lama kelamaan daun akan menjadi coklat dan mati.

  • Pengendalian teknis. Tanaman yang terserang parah dicabut sedangkan yang belum parah dipotong pucuk-pucuknya. Sisa tanaman yang terserang dibakar agar tidak menjangkiti yang lain. Untuk mencegahnya, usahakan areal penanaman cabe tidak berdekatan dengan tanaman singkong. Menjaga kebersihan kebun efektif mengurangi serangan tungau.
  • Pengendalian kimiawi. Tungau hanya bisa diberantas dengan racun tungau seperti akarisida, bukan dengan insektisida. Dilihat dari fisiknya, tungau berkaki delapan berbeda dengan serangga (insek) yang berkaki empat.

c. Hama kutu daun
Kutu daun yang menyerang tanaman cabe biasanya berasal dari jenis Myzus persicae. Kutu daun menyerang dengan menghisap cairan pada daun. Daun menjadi kering dan permukaan daun keriting.

Selain itu, kutu daun bisa mengundang berbagai penyakit secara tidak langsung. Kutu ini bisa menjadi vektor pembawa virus, menghasilkan cairan berwarna kuning kehijaun yang mengundang semut dan mengundang datangnya cendawan yang menimbulkan jelaga hitam pada permukaan daun.

  • Pengendalian teknis. Petik daun-daun yang terserang kemudian musnahkan. Hindari juga penanaman cabe berdekatan dengan semangka, melon dan kacang panjang. Menjaga kebersihan kebun dan penggunaan plastik mulsa perak efektif menekan perkembangan kutu daun.
  • Pengendalian kimiawi. Gunakan jenis insektisida yang mengandung fipronil atau diafenthiuron. Penyempotan paling efektif dilakukan pada sore hari.

d. Hama lalat buah
Serangan lalat buah (Bactrocera dorsalis) pada tanaman cabe menyebabkan kerontokan buah. Buah cabe tidak sempat dipanen karena keburu rontok ke tanah. Pada buah yang terserang apabila di belah terdapat larva lalat. Bila tidak dibersihkan, larva pada buah cabe yang rontok akan menjadi pupa di dalam tanah, sehingga siklus serangan akan terus berulang.

  • Pengendalian teknis. Pungut dan kumpulkan buah cabe yang rontok, kemudian musnahkan dengan cara membakarnya. Hal tersebut penting, agar lalat tidak menjadi pupa yang bisa bersemayam di dalam tanah. Lalat buah biasa juga menyerang jenis buah-buahan lain seperti belimbing, pisang, jeruk, dll. Jadi hindari membudidayakan tanaman cabe berdekatan dengan kebun buah.
  • Pengendalian kimiawi. Bisa menggunakan perangkap lalat dengan menggunakan atraktan yang mengandung methyl eugenol. Teteskan obat tersebut pada kapas dan masukkan pada botol bekas air mineral. Pemasangan perangkap bisa dilakukan setelah umur tanaman cabe satu bulan. Bila serangan parah, semprot dengan insektisida pada pagi hari, ketika daun masih berembun dan lalat belum berkeliaran.

e. Hama trips (Thrips)
Tanaman cabe yang terserang trips daunnya akan terlihat garis-garis keperakan, terdapat bercak-bercak kuning hingga kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila dibiarkan daun akan kering dan mati. Serangan trips biasanya menghebat pada musim kemarau. Hama ini juga berperan sebagai pembawa virus dan mudah sekali menyebar.

  • Pengendalian teknis. Bisa memanfaatkan predator alami hama ini, seperti kumbang dan kepik. Pemakaian mulsa dan menjaga kebersihan kebun efektif menekan perkembangannya. Selain itu, rotasi tanaman membantu mengendalikan hama jenis ini.
  • Pengendalian kimiawi. Penyemprotan dilakukan bila serangan meluas. Gunakan insektisida yang berbahan aktif fipronil dan lakukan pada sore hari.

Penyakit tanaman cabe
Penyakit yang menyerang tanaman cabe bisa disebabkan virus, bakteri, cendawan maupun jamur. Setidaknya ada enam macam penyakit yang biasa menyerang tanaman cabe, diantranya:
a. Bercak daun
Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cabe disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Gejalanya terdapat bercak-bercak bundar berwarna abu-abu dengan pinggiran coklat pada daun. Bila serangan menghebat daun akan berwarna kuning dan akhirnya berguguran. Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan dimana kondisi kelembaban cukup tinggi.
Penyakit ini menyebar saat jamur masih berupa spora dan bisa dibawa oleh angin, air hujan, hama vektor, dan alat pertanian. Spora jamur juga bisa terikut pada benih atau biji cabe.
Pencegahan terhadap penyakit ini dengan memilih benih yang sehat bebas patogen. Merenggangkan jarak tanam berguna meminimalkan serangan agar lingkungan tidak terlalu lembab. Pengendalian teknis bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi dengan cara dibakar. Bila serangan menghebat bisa diberikan fungisida.
b. Patek atau antraknosa
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides. Pada fase pembibitan penyakit ini menyebabkan kecambah layu saat disemaikan. Sedangkan pada fase dewasa menyebabkan mati pucuk, serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering. Sementara itu, pada buah akan menjadi busuk seperti terbakar.
Penyakit ini bisa terbawa dari benih atau biji cabe. Pencegahan bisa dilakukan dengan memilih benih yang sehat dan bebas patogen. Pengendalian bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang dan penyemprotan fungisida.
c. Busuk
Terdapat dua macam penyakit busuk yang biasa menyerang tanaman cabe, yakni busuk cabang dan busuk kuncup. Busuk cabang pada tanaman cabe disebabkan oleh Phytophthora capsici. Menyerang saat musim hujan dan penyebarannya sangat cepat.
Busuk kuncup disebabkan oleh cendawan Choanosearum sp. Penyakit ini masih jarang dijumpai di Indonesia. Gejalanya, kuncup tanaman berwarna hitam dan lama kelamaan mati.
Penyakit ini bisa dikendalikan dengan mengurangi dosis pemupukan nitrogen seperti urea dan ZA. Kemudian mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara berjalan lancar. Tanaman yang terinfeksi sebaiknya dicabut dan dibakar. Penyemprotan bisa dilakukan dengan fungisida, bila dilakukan saat musim hujan pilih fungisida yang memiliki perekat.
d. Layu
Penyakit layu merupakan penyakit yang cukup sulit dikendalikan pada budidaya tanaman cabe. Penyakit layu bisa ditumbulkan oleh beragam jasad penganggu tanaman seperti berbagai jenis cendawan dan bakteri.
Layu yang disebabkan cendawan disebut layu fusarium. Jenis cendawannya adalah Fusarium sp., Verticilium sp. dan Pellicularia sp. Cendawan ini hidup di lingkungan yang masam.
Sedangkan layu bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Bakteri ini hidup di jaringan batang. Pengendalian penyakit layu harus diamati dengan lebih spesifik agar penanganannya bisa lebih tepat.
e. Bule atau virus kuning
Tanaman cabe yang terserang virus kuning, daun dan batangnya akan terlihat menguning. Penyakit ini disebut juga penyakit bule atau bulai. Penyebabnya adalah virus gemini, penyakit ini bisa dibawa dari benih atau biji dan ditularkan oleh kutu.
Penyakit yang disebabkan virus tidak akan mempan dengan penyemprotan racun-racun kimia. Pengendalian harus dilakukan semenjak dini, dengan memilih benih unggul dan tahan serangan virus. Selain itu bisa juga dengan membasmi hama yang menjadi vektornya, seperti kutu.
Untuk menaikan daya tahan tanaman cabe terhadap serangan virus kuning, bisa dengan mengintensifkan pemupukan, misalnya penggunaan pupuk organik cair yang mengandung zat hara makro dan mikro lengkap. Tujuannya agar tanaman cabe tumbuh subur sehingga lebih tahan terhadap patogen.
f. Keriting daun atau mosaik
Penyebab serangan penyakit mosaik adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV). Gejalanya, pertumbuhan menjadi kerdil, warna daun belang-belang hijau tua dan hijau muda, ukuran daun lebih kecil, tulang daun akan berubah menguning.
Penyakit ini bisa menyebar dan menular ke tanaman lain oleh aktivitas serangga. Penyemprotan kimia bertujuan untuk menghilangkan serangga bukan penyakitnya. Untuk mengurangi penyakit, musnahkan tanaman cabe yang telah parah terserang.
Pemilhan benih tahan virus membantu menghindari resiko serangan penyakit ini. Hal lain yang bisa membantu mengurangi resiko serangan adalah pemupukan yang baik dan tepat.







sumber:
alamtani.com